Mengembangkan model bisnis penyelesaian isu sosial (Social Entrepreneurship) dengan mengadopsi pilar Triple Bottom Line.
Wirausaha sosial memiliki misi ganda (Double Bottom Line) yaitu dampak sosial dan profit keuangan:
Fokus utama didirikan adalah memecahkan isu sosial (pengangguran pemuda difabel, kemiskinan petani lokal) secara mandiri lewat operasional penjualan produk.
Berbeda dengan yayasan nirlaba (NGO) yang bergantung penuh pada donatur, wirausaha sosial berjualan produk agar memiliki kas operasional mandiri berkelanjutan.
Kerangka bisnis modern untuk mengukur tingkat kesuksesan usaha secara menyeluruh pada 3 pilar berimbang:
Menjamin upah layak karyawan, menyediakan ruang kerja aman, serta mendukung kemajuan ekonomi komunitas lokal.
Meminimalisir emisi karbon produksi, menghemat penggunaan air/listrik, serta melarang pembuangan limbah kimia berbahaya.
Tetap memperoleh laba bersih keuangan sebagai penunjang utama investasi riset, serta kelangsungan hidup bisnis jangka panjang.
Mendesain kemasan produk biodegradabel yang mudah terurai (pelepah pisang, kantong singkong), mengadopsi Circular Economy (limbah sisa didaur ulang).
Tanggung jawab moral perusahaan besar untuk memberikan alokasi laba bersih dalam bentuk beasiswa sekolah, fasilitas kesehatan komunitas.